Sunday, August 24, 2014

Beri Aku Alasan untuk Hidup


Ia mencoba mengumpulkan keberaniannya sekali lagi, mengambil nafas dalam-dalam dan kembali menempelkan tepian silet di nadi pergelangan tangan kirinya. Cukup lama ia memejamkan mata, mencoba mengingat segala kepahitan dan kegagalan untuk lebih membenarkan tindakannya. Raut mukanya berubah haru, perlahan matanya meneteskan air mata seakan menumpahkan perasaan marah yang telah dipendamnya berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Ia sendiri dikamar itu, hanya ada sedikit penerangan sinar matahari dari celah di jendela yang ditutupi kain seadanya. Ia merangkak perlahan dan menyandarkan tubuhnya pada tembok, tanpa suara hanya matanya yang coba menatap jauh ke masa lalu. Masa yang selalu menyudutkannya, masa dimana dunia tak berpihak kepadanya, masa dimana Tuhan seakan tidak adil kepadanya.
Yang ada dipikirannya hanya ingin secepatnya mengakhiri semua, hidup terlalu menjemukan.

“Bukankah semua manusia akan mati dan duniapun akan berakhir? Tak perlu ada yang ditakutkan dengan kematian”
Kata-kata itu seakan memenuhi isi kepalanya. Dan memantapkan keinginannya untuk benar-benar mengakhiri hidup.

Napasnya semakin tak beraturan karena rasa sedih bercampur takut yang berlebih.
“Rasa sakit ini hanya sebentar dan setelah ini semua akan berakhir”
Ia mencoba meyakinkan dirinya untuk menghilangkan rasa takut.
Beberapa menit silet tersebut tertahan di pergelangan tangannya, keadaanpun semakin hening.
Begitu sepi, semua seakan terhenti hanya terdengar suara detak detik jam yang seakan memberi hitungan mundur untuknya.

Tak ada lagi cahaya matahari yang masuk ke kamar, cahayanya tertahan gumpalan awan kelabu. Langit diluar begitu keruh namun tanpa gemuruh.
Entah apa yang ada dipikiranya, ia tersentak dan membuang silet yang telah lama dipegangnya ke sudut kamar. Di kamar tersebut hanya ada sedikit barang, tak ada satupun barang mewah disana. Hanya selembar kasur tipis tanpa sprei dan lemari yang berdiri miring karena satu kakinya yang hancur dimakan rayap.

Ia mencoba menutupi wajahnya yang penuh air mata dan keringat dingin, semua perasaan bercampur menjadi satu. Sedih, marah dan takut.


Ia masih ingat beberapa waktu lalu saat wajahnya memar membengkak karena pukulan puluhan orang, menurutnya itu tidak seberapa sakit daripada melihat malaikat kecilnya menahan lapar hingga seharian.
Yang lebih membuatnya sakit setiap malaikat itu menanyakan keberadaan ibunya, yang entah sudah kemana karena merasa tak ada kebahagiaan di keluarga kecil ini.
Terlalu berat untuknya menata keluarga ini tanpa sosok seorang wanita yang harusnya bisa memberi semangat.
Bukankah dibelakang pria hebat selalu ada wanita hebat pula yang mendampinginya?
Ahh, sudahlah kalimat itu terlalu manis.

Melalui hari tanpa uang yang cukup, menahan lapar hingga malam atau terbangun di pagi hari karena teriakan pemilik kontrakan yang menaging uang seakan menjadi rutinitas setiap hari.
Hingga menjadi hal yang terbiasa ia lakukan.
Hal yang benar-benar membuatnya ragu untuk menlanjutkan hidup. Karena esok, lusa ataupun esok lusa keadaan pasti masih tetap sama.
Menjemukan….

Ia sudah benar-benar yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Perlahan ia merangkak mengambil siletnya kembali sambil berusaha menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Perang batin ini benar-benar menguras tenaganya.
Sambil menengadah ia menatap sekelilingnya, menikmati pemandangan terakhir yang mungkin akan dilihatnya.
Matanya kini terpejam dan kembali menarik satu nafas panjang, tangan kanannya semakin kuat memegang silet dan mendekatkan ke nadinya.

Tiba-tiba saja teriakan anaknya seperti menyadarkannya,
Ayaahh aku pulang… Ayah dimana?”, suara khas anak kecil dengan keceriaannya.
Ayaahh dimana? Jangan bersembunyi…”
“Ayaahh ketahuan….”, teriaknya saat menemukan ayahnya dikamar tidur.
Anak tersebut langsung berlari dan memeluk ayahnya.
Ada apa nak? Kamu lapar?”
“Ayah sudah makan?”, anak tersebut malah bertanya
“Ayah belum lapar”
“Kalau begitu aku juga belum lapar, aku ingin makan bersama ayah”, jawabnya polos.
“Ayah aku ingin cepat-cepat sekolah”
“Kamu masih terlalu kacil nak”, jawabnya sambil mengelus rambut cokelat anaknya.
Ahh, mata indahnya begitu mirip dengan ibunya.
“Aku ingin sekolah yang rajin dan menjadi dokter jika sudah besar. Aku ingin menyembuhkan teman-temanku yang sakit”
Matanya berkaca-kaca saat mendengarkan ucapan anaknya. Perlahan menetes dan semakin deras.
Ia tak dapat berkata-kata, hanya mampu memeluk dan menciumi pipi bulat anaknya.

Tuhan ampuni khilafku…. Izinkan aku mencoba hidup satu kali lagi, aku telah menemukan alasan mengapa aku harus bertahan”