Ia mencoba mengumpulkan
keberaniannya sekali lagi, mengambil nafas dalam-dalam dan kembali menempelkan
tepian silet di nadi pergelangan tangan kirinya. Cukup lama ia memejamkan mata,
mencoba mengingat segala kepahitan dan kegagalan untuk lebih membenarkan
tindakannya. Raut mukanya berubah haru, perlahan matanya meneteskan air mata
seakan menumpahkan perasaan marah yang telah dipendamnya berbulan-bulan atau
bahkan bertahun-tahun.
Ia sendiri dikamar itu, hanya ada
sedikit penerangan sinar matahari dari celah di jendela yang ditutupi kain
seadanya. Ia merangkak perlahan dan menyandarkan tubuhnya pada tembok, tanpa
suara hanya matanya yang coba menatap jauh ke masa lalu. Masa yang selalu
menyudutkannya, masa dimana dunia tak berpihak kepadanya, masa dimana Tuhan
seakan tidak adil kepadanya.
Yang ada dipikirannya hanya ingin
secepatnya mengakhiri semua, hidup terlalu menjemukan.
“Bukankah semua manusia akan mati
dan duniapun akan berakhir? Tak perlu ada yang ditakutkan dengan kematian”
Kata-kata itu seakan memenuhi isi
kepalanya. Dan memantapkan keinginannya untuk benar-benar mengakhiri hidup.
Napasnya semakin tak beraturan
karena rasa sedih bercampur takut yang berlebih.
“Rasa sakit ini hanya sebentar
dan setelah ini semua akan berakhir”
Ia mencoba meyakinkan dirinya
untuk menghilangkan rasa takut.
Beberapa menit silet tersebut
tertahan di pergelangan tangannya, keadaanpun semakin hening.
Begitu sepi, semua seakan
terhenti hanya terdengar suara detak detik jam yang seakan memberi hitungan
mundur untuknya.
Tak ada lagi cahaya matahari yang
masuk ke kamar, cahayanya tertahan gumpalan awan kelabu. Langit diluar begitu
keruh namun tanpa gemuruh.
Entah apa yang ada dipikiranya,
ia tersentak dan membuang silet yang telah lama dipegangnya ke sudut kamar. Di
kamar tersebut hanya ada sedikit barang, tak ada satupun barang mewah disana.
Hanya selembar kasur tipis tanpa sprei dan lemari yang berdiri miring karena
satu kakinya yang hancur dimakan rayap.
Ia mencoba menutupi wajahnya yang
penuh air mata dan keringat dingin, semua perasaan bercampur menjadi satu.
Sedih, marah dan takut.
Ia masih ingat beberapa waktu
lalu saat wajahnya memar membengkak karena pukulan puluhan orang, menurutnya
itu tidak seberapa sakit daripada melihat malaikat kecilnya menahan lapar
hingga seharian.
Yang lebih membuatnya sakit
setiap malaikat itu menanyakan keberadaan ibunya, yang entah sudah kemana
karena merasa tak ada kebahagiaan di keluarga kecil ini.
Terlalu berat untuknya menata
keluarga ini tanpa sosok seorang wanita yang harusnya bisa memberi semangat.
Bukankah dibelakang pria hebat
selalu ada wanita hebat pula yang mendampinginya?
Ahh, sudahlah kalimat itu terlalu
manis.
Melalui hari tanpa uang yang
cukup, menahan lapar hingga malam atau terbangun di pagi hari karena teriakan
pemilik kontrakan yang menaging uang seakan menjadi rutinitas setiap hari.
Hingga menjadi hal yang terbiasa
ia lakukan.
Hal yang benar-benar membuatnya
ragu untuk menlanjutkan hidup. Karena esok, lusa ataupun esok lusa keadaan
pasti masih tetap sama.
Menjemukan….
Ia sudah benar-benar yakin dengan
apa yang akan ia lakukan. Perlahan ia merangkak mengambil siletnya kembali
sambil berusaha menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Perang batin ini benar-benar
menguras tenaganya.
Sambil menengadah ia menatap
sekelilingnya, menikmati pemandangan terakhir yang mungkin akan dilihatnya.
Matanya kini terpejam dan kembali
menarik satu nafas panjang, tangan kanannya semakin kuat memegang silet dan
mendekatkan ke nadinya.
Tiba-tiba saja teriakan anaknya
seperti menyadarkannya,
“Ayaahh aku pulang… Ayah dimana?”, suara khas anak kecil dengan
keceriaannya.
“Ayaahh dimana? Jangan bersembunyi…”
“Ayaahh ketahuan….”, teriaknya saat menemukan ayahnya dikamar
tidur.
Anak tersebut langsung berlari
dan memeluk ayahnya.
“Ada apa nak? Kamu lapar?”
“Ayah sudah makan?”, anak tersebut malah bertanya
“Ayah belum lapar”
“Kalau begitu aku juga belum lapar, aku ingin makan bersama ayah”,
jawabnya polos.
“Ayah aku ingin cepat-cepat sekolah”
“Kamu masih terlalu kacil nak”, jawabnya sambil mengelus rambut
cokelat anaknya.
Ahh, mata indahnya begitu mirip
dengan ibunya.
“Aku ingin sekolah yang rajin dan menjadi dokter jika sudah besar. Aku
ingin menyembuhkan teman-temanku yang sakit”
Matanya berkaca-kaca saat
mendengarkan ucapan anaknya. Perlahan menetes dan semakin deras.
Ia tak dapat berkata-kata, hanya
mampu memeluk dan menciumi pipi bulat anaknya.
“Tuhan ampuni khilafku…. Izinkan aku mencoba hidup satu kali lagi, aku
telah menemukan alasan mengapa aku harus bertahan”

No comments:
Post a Comment